Defacing (mengubah gambar) uang kertas - ternyata bisa menjadi bentuk seni.
Contoh di atas tentu mengingatkan kita pada film "300"...
Ada yang mau coba dengan lembar rupiah?
Selamat Datang di Blog Ekonomika. Blog ini membahas mengenai ekonomi dan cara pandang ekonomi secara luas.
Kenaikan harga CPO diduga dari paper tradingPowered by ScribeFire.
oleh : M. Munir Haikal
JAKARTA (Bisnis): Meroketnya harga crude palm oil (CPO) di pasaran dunia dikhawatirkan berasal dari paper trading bukan berasal dari perdagangan riil.
Dirut PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk Ambono Janurianto mengatakan kalau kenaikan harga CPO di pasaran dunia disebabkan oleh paper trading dapat dipastikan akan terjadi koreksi harga.
"Kami merasa comfort [nyaman] pada level harga US$650 per ton, tetapi harga yang ada di pasaran dunia sudah melampui perkiraan semua pihak," ujarnya siang ini.
Pada penutupan pekan lalu, harga CPO untuk pengiriman April di Rotterdam mencapai US$740 per ton, hampir menyamai harga tertinggi yang pernah dicapai pada 1994 sebesar US$750 dan 1998 (US$760).
Pasokan ke pasar dunia saat ini sebesar 34 juta ton, sementara itu permintaan sekitar 35 juta-36 juta ton. Tren permintaan CPO akan terus naik seiring dengan meningkatnya kebutuhan biofuel sebagai alternatif pengganti minyak mentah yang harganya tertahan di level tinggi. (tw)
Kaya itu relatif (was: Jumlah orang kaya di dunia meningkat) At 10:42 PM 3/9/2007, you wrote:
Rekan-rekan, Mungkin sebelum kita berlarut-larut melebar pada CSR dll., kita perlu melihat apa yang didefinisikan sebagai "kaya" dalam publikasi Forbes. Definisi umumnya memang "Net Worth" (Kekayaan Bersih) - tetapi kalau kita lebih teliti lagi melihat sumber kekayaan tersebut maka akan tersibak bahwa kekayaan tersebut berbentuk relatif. Mengapa? Karena komponen terbesar dari kekayaan dalam daftar Forbes adalah berasal dari pemilikan saham perusahaan (Equity).
Mengapa saya katakan relatif? Karena Saham secara prinsip adalah residu (sisa) dari asset dikurangi kewajiban suatu perusahaan (mulai dari kewajiban terhadap pemerintah (pajak), kewajiban terhadap supplier, kewajiban terhadap distributor, kewajiban terhadap kreditur (bank), kewajiban terhadap pemegang obligasi / bond, kewajiban terhadap pegawai, dan kewajiban terhadap pensiunan).
Setelah dikurangi semua kewajiban-kewajiban barulah sisanya adalah klaim yang diwujudkan dalam bentuk pemilikan saham. Bila kewajiban perusahaan meningkat tidak seiring dengan peningkatan asset - maka secara fundamental kekayaan para pemegang equity pun akan turun. Dan tentu saja vice versa. Ini berarti bahwa kekayaan para billionaires di daftar Forbes pun bisa berfluktuasi. Kekayaan mereka semata-mata hanya "di atas kertas".
Memang masih sulit saat ini membayangkan orang seperti Bill Gates jadi jatuh miskin, tetapi kalau kita melihat saham perusahaan sebagai sumber "kekayaan" - kita harus melihat dalam skala lebih jauh lagi. Secara sederhana kita coba lihat perusahaan-perusahaan yang ada dalam Dow Jones Industrial Averages yang berisi 30 perusahaan terbesar Amerika.
Apakah perusahaan-perusahaan tersebut abadi? Ternyata tidak. Dari 30 anggota DJIA saat pertama kali disusun, cuma SATU perusahaan yang masih tetap tercantum dalam daftar - yaitu General Electric (GE). Ke mana yang lain?? Bangkrut dan bubar, atau diakuisisi oleh perusahaan-perusahaan yang lebih sehat. Ke mana perusahaan raksasa pada zamannya seperti Bethlehem Steel? PanAm? US Steel? Bangkrut ataupun diakuisisi. Tidak bersisa. Tidak berjejak.
Saya pernah membaca sebuah paper (sialnya saya lupa saya tahudi mana) -- tetapi disebutkan bahwa "usia" rata-rata sebuah perusahaan skala menengah dan besar adalah cuma sekitar 35 tahun. Lebih pendek dari rata-rata umur manusia. Untuk beberapa sektor seperti teknologi informasi - usia rata-ratanya malah lebih pendek lagi (coba kita cari nasib perusahaan raksasa seperti DEC, Silicon Graphics, CP/M, Osborne, Wang System, Polaroid, dll.)
Apa yang bisa ditarik dari hal ini? Bahwa dunia enterprise bersifat sangat dinamis. Mereka pun seperti manusia - lahir, tumbuh, dewasa, tua, dan mati. Kalau mereka tidak bisa beradaptasi (terutama di sisi SDM -- maka perusahaan tersebut akan terlindas zaman, dan mati). Perspektif ini yang sering terlupakan oleh para kritisi korporasi - dengan kecenderungan melakukan simplifikasi.
Dan kembali lagi pada kekayaan residual bernama saham - dan sektor finansial secara umum -- apakah ada gunanya? Tentu saja ada.
Penikmat paling utama dari pasar finansial adalah para pemegang saham secara umum (jadi bukan semata-mata orang yang namanya terpampang dalam daftar Forbes) dan bagian terbesar dari institusi demikian adalah Dana Pensiun, Perusahaan Asuransi dan Reksa Dana (Mutual Fund). Dan sangat jelas bahwa institusi-institusi ini memiliki aspek sosial yang sangat signifikan.
Tanpa berinvestasi pada instrumen Equity - maka Dana Pensiun akan sangat sulit mencapai skala ekonomi yang sustainable / langgeng. Defisit sangat besar pada berbagai dana pensiun di Jerman dan Perancis misalnya, bisa ditelusuri dari sangat kecilnya porsi equity dalam portofolio mereka -- di mana komponen terbesar adalah Bond Pemerintah. Investasi yang berlebihan pada bond pemerintah ini sangat beresiko - karena terkait dengan posisi fiskal pemerintah.
Sebagai akibatnya terjadi tarik menarik kepentingan sangat besar antara menjamin kesejahteraan pegawai yang sekarang bekerja dengan kepentingan para pensiunan... Salah satu harus dikorbankan - dan hal ini cenderung menjadi pilihan politis dengan konsekuensi ekonomi dan finansial yang sangat serius.
Jadi, di luar kerangka CSR (yang kadang sering menjadi polemik dalam strategi pengelolaan dan pemanfaatannya) terdapat fungsi lain korporasi dalam kehidupan sosial. Semakin baik dikelola, semakin bermanfaat. (Mengingatkan saya atas kata-kata Milton Friedman (alm.) bahwa kontribusi terbesar korporasi bagi CSR adalah dengan berusaha menghasilkan keuntungan seoptimum mungkin)
Apakah mengelola perusahaan dengan baik tidak patut diganjar dengan pantas? Tentu saja, dan semakin bagus dana tersebut dikelola - semakin pantas orang yang bertanggung jawab atas hal tersebut menghuni daftar Forbes.
Semakin tidak becus dikelola - semakin pantas orang yang bertanggung jawab tidak memperoleh apa-apa dan semakin pantas perusahaan tersebut mati - tanpa perlu membebani seluruh masyarakat.
NB: Tulisan di atas di-inspirasikan dari konsep "Creative Destruction" yang disusun oleh Schumpeter.
If companies are to make rational investments, governments are to make rational policies, and individuals are to make rational consumption plans...menunjukkan tiga bagian paling penting dalam kegiatan ekonomi dari tiga pihak yang terlibat. Perusahaan tugasnya adalah berinvestasi secara rasional, sementara pemerintah bertugas menghasilkan kebijakan yang rasional dan individu melakukan perencanaan konsumsi yang rasional.